Pengajaran Karakter Menjadi Salah Satu Solusi

Pengajaran Karakter Menjadi Salah Satu Solusi
Adanya siswa yang berani kepada guru, khususnya di dalam kelas dan di hadapan para siswa lain seperti yang dilaksanakan siswa kelas IX SMP PGRI di Gresik, permulaan Februari 2019 lalu, tentunya betul-betul disayangkan. Apalagi kejadian itu bukan kali pertama. Sebelumnya juga pernah ada, bagus secara lisan ataupun dalam format kekerasan lainnya. Untuk itu, supaya momen demikian tak terulang di masa-masa akan datang, patut langsung diurai benang merahnya.

Baca juga :  st monica school jakarta

Kecuali dengan mencari akar situasi sulit, juga dengan taktik dan langkah yang pas untuk menuntaskan situasi sulit hal yang demikian. Rektor Univeristas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Sutrisno Wibowo mengatakan, adanya siswa yang berani kepada guru ini terang patut mendapatkan perhatian bersama, bagus pemerintah, lembaga pengajaran, masyarakat ataupun orang tua. Ini penting, karena adanya momen hal yang demikian tak dapat dipisahkan dari seluruh stakeholder . “Seperti kejadian di Gresik, yang terjadi di dalam kelas, sedangkan ada siswa yang menantang guru, siswa lain tak bereaksi mencegah maupun memberikan peringatan, tapi pun terkesan mengizinkan sehingga suasana kelas sangatlah disayangkan,” katanya.

Berdasarkan Sutrisno, hal hal yang demikian tentu ada yang kurang pas, khususnya dalam pengaplikasian pengajaran, yakni mengenai karakter. Untuk pengajaran karakter kini kurang dipandang dan lebih mengedepankan pengajaran akademik. Sebab pengajaran karakter penting, harusnya perlu digalakkan lagi, bagus di dalam keluarga, masyarakat ataupun lembaga pengajaran. “Untuk lembaga pengajaran, patut diawali semenjak pengajaran si kecil umur dini (PAUD) sebagai kelanjutan dari keluarga. Karena penyusunan kepribadian patut semenjak lahir oleh keluarga, malahan semenjak dalam kandungan dengan doa-doa yang dipanjatkan orang tuanya,” kata eks Sekretaris Dirjen Pelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti hal yang demikian.

Sutrisno menerangkan, sebab pengajaran itu menjadi tanggung jawab bersama keluarga, masyarakat, dan pemerintah, ketiga pemangku kepentingan itu patut bersinergi. Termasuk dalam penyusunan karakter. Sayangnya adakalanya keluarga menyerahkan sepenuhnya terhadap sekolah. “Meski adanya kenakalan itu yaitu komponen dari karakter dan karakter lebih pas dibiasakan semenjak kecil oleh kekuarga dan lingkungan sekitar. Jadi peran penyusunan karakter wajib dari keluarga. Peran sekolah tinggal melanjutkan, tak mengawali dari dasar,” ungkap dosen bahasa dan adat istiadat lokal itu.

Solusinya, seluruh stakeholder patut langsung bersinergi. Ia untuk sekolah bersinergi dengan orang tua siswa, adalah dengan mengundang orang tua ke sekolah atau wali kelas berkunjung ke rumah untuk turut bersama-sama sekolah mengajar dan mengawasi si kecil. “Termasuk kegiatan ekstrakurikuler juga patut digalakkan serta dengan mengaplikasikan berjenis-jenis teladan dinamika kategori dalam pelajaran,” katanya. Sebab yang sama dinyatakan pengamat sosial Universitas Gadjah Mada (UGM) Hempri Suyatna.

mengatakan, adanya momen siswa yang berani terhadap gurunya, itu imbas dari lunturnya nilainilai budi pekerti dan lemahnya pengembangan karakter si kecil. Lemahnya lingkungan pergaulan, layar kaca serta media sosial juga berakibat pada pengembangan karakter si kecil. Di sisi lain, berkembangnya teknologi hal yang demikian tak diimbangi peran memadai dari orang tua yang cenderung makin berorientasi ekonomi. Karena fungsi pengajaran tak semata-mata tanggung jawab guru, tapi juga keluarga dan masyarakat.

“Sebagai solusinya, patut ada hukuman, tetapi hukuman yang mengajar saat si kecil melanggar. Jangan hingga dengan alasan kebebasan dan hak tumbuh kembang si kecil, pelanggaran-pelanggaran si kecil hal yang demikian dilalaikan.

 

 

 

Artikel terkait : saint monica school jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *